Saat Jiwa Terwakilkan Oleh Gambar Dan Kata-kata Berbisik Tenang

Hanya Sekedar Catatan

Blog Entry[puisi] langit pagiJan 24, '08 10:02 PM
for everyone

 :anakku

langit pagi ini akan menyambutmu

awan-awan berarak membentuk konvoi ceria

membawa sejuta harap dan kesenangan

 

doa-doa terpanjat untukmu

dan tangis bahagia akan tercurah pada lembar berisi kata

 

untuk anakku bernama langit pagi

ijinkan ayah mencium kening dan membisikkan kalimat Illahi

dan genggam jariku untuk membantu menuntunmu

 

:pada lembut hari dan cerianya waktu

selamat datang anakku

 


Blog EntryWahana Baru Di BogorJan 17, '08 2:46 AM
for everyone

Dapat info ini dari temen...

dan belum nyoba secara masih jadi suami siaga....

tapinya pasti pengen nyoba....:)

 

 

Peta Dari Webnya Bogor nirwana :

 


Blog EntryClean Up the World - Jalan Pagi Santai Bersama -Nov 12, '07 3:08 AM
for everyone

Meneruskan forward email yg diterima hari ini....

=============================================

Dear Friends and Coleages,

Clean Up the World adalah campaigne / gerakan
lingkungan untuk memberdayakan individu dan komunitas
di setiap penjuru dunia untuk menjadikan lingkungan
lebih bersih dan lebih sehat untuk dihuni. Memasuki
tahun ke 15, Clean Up the World yang dilaksanakan dg
United Nation Einvironment Program (UNEP),
memobilisasi sebanyak 35 juta sukarelawan untuk
melakukan kampanye lingkungan yang terbesar di dunia.

Di Jakarta, mari kita lakukan dengan Jalan Pagi Santai
Bersama. Kapan ? Tanggal 25 November 2007. Jam 05.30
Pagi. Start di Monas dan finish di Senayan. Boleh naik
sepeda.

Tidak ada biaya registrasi. Setiap peserta akan
mendapatkan goodie bag yang berisi T-Shirt, Pin,
Booklet informasi, Snack dan tentunya sertifikat
kepedulian di akhir acara.

Untuk registrasi, kami hanya membutuhkan nama, email
dan no. telp. Please email ke
cleanup.egabriefings@yahoo.com

Kami tunggu di Monas ya.


Blog EntrySaat cinta ini kulukiskan di hamparan awanJun 4, '07 11:32 PM
for everyone

langkah kaki ini telah mencapai titik terlelah saat hembusan angin kemarau menerpa

hati perlahan membeku dengan membiarkan degup yang berhitung satu-satu

tapi jiwa memberikan sedikit pemberontakan, "takkan kubiarkan raga ini terdiam dalam bisu"

kembali kaki ini perlahan melanjutkan langkahnya

menapak tanah basah

mengukir jejak pada resah

:karena cinta yang mebawa diri ini, maka dia harus bisa kulukis pada hamaparan awan yang kurindu

-Gede Mt. 26-27 May 2007-

-Sam's- 

 


Blog EntryUndangan-Komunitas Puisi Maya: Bisa Apa?!Oct 9, '06 3:44 AM
for everyone

Komunitas Puisi Maya: Bisa Apa?!

Diskusi & Pertunjukan Puisi

 

Sabtu, 14 Oktober 2006

15.00 – 22.00 WIB

KeDAI Tempo & Teater Utan Kayu

Komunitas Utan Kayu, Jl. Utan Kayu 68H, Jakarta Pusat

 

Komunitas BungaMatahari ingin mengajak teman-teman untuk terlibat dalam acara yang turut melibatkan Apresiasi Sastra, Fordisastra, Penyair, Sastra Pembebasan ini. Selain menggelar diskusi, kami juga akan mengadakan pertunjukan puisi yang terdiri dari pembacaan dan pameran puisi visual. Khusus untuk yang terakhir disebutkan, kami membuka kesempatan bagi teman-teman yang mempunyai karya puisi visual untuk mengirimkannya ke festi.noverini@gmail.com / festi(dot)noverini(at)gmail(dot)com, nivellism@yahoo.com / nivellism(at)gmail(dot)com dan adiputra_singgih@yahoo.com / adiputra(underscore)singgih(at)yahoo(dot)com paling lambat Rabu, 11 Oktober 2006. Besar gambar masing-masing 500 KB - 1 MB. Namun, karena tempat yang terbatas, kami harus menyeleksi karya-karya yang masuk.

 

Tentu saja kami juga ingin mengundang teman-teman sekalian untuk menghadiri keseluruhan acara. Diskusi akan membahas fenomena puisi cyber dengan segala kenikmatan dan tantangannya. Setelah buka puasa sederhana, acara akan dilanjutkan dengan pembacaan puisi. Masing-masing komunitas yang terlibat boleh mengirimkan 2 penampil. Tapi, jangan khawatir, kesempatan untuk penampilan spontan tetap terbuka.  

 

Ya, komunitas puisi maya memang BISA!

 

 

Salam,

 

Panitia

Komunitas Puisi Maya: Bisa Apa?!

 

Catatan: Pertanyaan dapat dilayangkan ke anya@bungamatahari.org / anya(at)bungamatahari(dot)org, blue4gie@gmail.com / blue4gie(at)gmail(dot)com atau festi.noverini@gmail.com / festi(dot)noverini(at)gmail(dot)com.


Blog EntrySelamat jalan SahabatkuAug 31, '06 5:53 AM
for everyone

Seperti Petir yang menghampiriku pada senja ini.

berita itu mengguncang batin dan hati ini, dan jari2 ini tak sanggup untuk menuliskan kata-kata untukmu sahabat. kecuali barisan panjang doa yang menyertai perjalanan akhirmu.

 

Selamat Jalan Sahabatku, Anna Siti Herdiyanti (Inong).


Blog EntryPuisi Pagi Untukmu, SahabatJul 5, '06 10:53 PM
for everyone
langit disudut utara jakarta ini seperti hamparan kanvas putih
menanti goresan dari tarian kuas-kuas yang penuh warna-warna cerah
 
sudah belasan jejak langkah yang tertinggal, atau malah mungkin ribuan jejak langkah
memoriku terbatas untuk mencatat, karena hanya dalam bingkai bernama gambar aku mencatat
 
saat kau junjung langit dan timang kerinduan, perlahan tahun mencuri satu usiamu
tapi hamparan perjalanan masih terbentang luas dan menanti langkah-langkahmu
 
kita selalu bertanya pada diri dan mencari jawab dalam setiap hela nafas
tapi pernahkah kita membiarkan diri bertanya dalam setiap detak jantung
 
langkah-langkah yang terayun adalah kerinduanmu akan tenang
lukisan-lukisan tanpa kanvas adalah suasana hatimu yang terekam
 
:dan gumpalan awan yang berarak pagi ini adalah keindahan yang tersampaikan untukmu, Sahabat.
 
Jakarta, 060706

“Cumbuan Kabut Surya Kencana Memberi Rindu Pada Jiwa-jiwa Penuh Cinta”

Trip NFH3+ , Gn. Gede

 

(Perjalanan kali ini ternyata membawa efek dan dampak yg sangat besar. Dan jawab yang ternanti adalah “Iya”.

Mungkin prolog ini lebih bersifat kea rah pribadi tapi ijinkan jejemari ini memainkan nadanya pada barisan huuf-huruf keyboard gelapku.)

 

Malam Jum’at ini kaki terpijakkan pada area pintu 7 senayan, “Technical meeting terakhir, pesan terakhir yang teringat”. Puluhan atau mungkin ratusan bau keringat menyebar dari area bernama Gelora ini. Tapi wajah-wajah ya terharapkan belum satupun menghias pandangan ini. Sebuah pesan datang dengan perlahan “Gue lagi OTW, ban kemps”. Lalu wajah ibu muda dengan segelas es buah berjalan menantang untuk di sambut. Dan mulailah wajah-wajah yang telah melekat bahkan mungkin telah mengambil sebagian memori dari otak ini menampakkan ujud mereka yang kasat dan mungkin kesat.

Perbincanganpun terjadi dan tetap dengan cela dan makian yang membikin gerah setiap telinga yang berusaha mencuri dengar.

Bila dentang jam dinding besar terdengar mungkin kami baru tersadar, tapi ternyata pergerakkan badan yang mengusir langkah untuk bergerak pulang dan waktu berbicara pada angka 9.

Kembali berada di surga hangat pada saat jarum pendek dan panjang beradu kecepatan pada hitungan 10. Dan pengepackan (bahasa kerennya packing) pun dimulai, packing ini adalah baru untuk 1 jiwa dan besok malam rencanannya akan melanjutkan kembali. Ketika dentang berbunyi 12 kali matapun telah lelah dan jiwa ini menuntut untuk terlelap.

Jum’at, waktu terpampang pada angka 05.30. Kaki pun mulai melangkah meninggalkan surga kecil yang hangat dengan membawa keril berisi perlengkapan standard dan menempatkan diri pada busa empuk “my jazzy blue”, pagipun kubuka dengan raungan hangat nan lembut. Dengan berjanji pada waktu keril disinggahkan pada kamar hangat keduaku.

Setelah berpacking ria membereskan keril kedua, mata ini terasa berat untuk menyaksikan “The Net” yang sedang tayang pada televisi swasta yang bermoto “milik Kita Bersama”, tanpa pamit pada pemilik kamar akhirnya jiwa ini terlelap dan pemilik kamar yang tak lain adalah my special one bergeser pada kamar sebelah. (lelaki yang egois adalah siksa,…sam).

 

Sebuah Nalar Pada Waktu Terhitung

 

adakah letih yang menyapa pada bisik bintang pagi

atau lembut tanya sang rembulan sepi

sedang hati enggan menjawab semua tanya

 

perlahan jiwa menuntun mata untuk menatap rindu yang terpancar

agar keraguan menjadi kekuatan yang tersimpan pada hasrat

lalu melepas ketidakyakinan menjadi pasti

 

nalar kita mungkin berkata tidak

tapi bila jiwa menuntun untuk menuliskan iya

jangang pernah ragu, karena waktu terus berhitung

 

Sabtu, mengalahkan kokok ayam jantan yang tak terdengar mata ini menatap lepas dan menyiapkan badan untuk bermain dengan air pagi. Lalu menjumpai Sang Maha untuk melaporkan diri dan memohon segala permintaan bergantian dengan my special one. Kembali langkah kaki terayun, tetapi kali ini langkahku tak sendiri karena ada yang menemani dan harapanku adalah bukan untuk saat ini saja kumelangkah bersama.

Ah…,akhirnya bisa juga aku mencoba busway setelah angkutan ini lama beredar di ibukota yang sesak dan padat ini. Dan harus kuakui bis ini terasa nyaman disaat sepi entah bila penuh sesak.

Tiba di halte busway monas lalu berganti busway ke arah blok m, dan tetap dengan menggendong keril yang menjadi perhatian semua mata pagi itu. Melirik ke jam tangan harga kaki lima yang melingkar santai pada pergelangan tangan ini (06.00) akhirnya sampai juga kami di halte busway bunderan senayan (atas saran dari ibu muda Ferinalah kami turun disini…menyesatkan, huh). Berharap akan adanya ojek kamipun dengan santai berjalan melintasi halte ke seberang, tapi mata ini telah salah menangkap penampakan pagi itu, karena dua motor yang terparkir pada area khusus ojek ternyata bukan, maka trekking pagi pun menjadi alternative. Dan tidak melewati batas maksimal dari waktu yang telah ditentukan akhirnya kami tiba di meeting point, patal senayan.

Perjalananpun bermulai, meninggalkan rekan yang tak jadi…huh kekesalan pribadi menyeruak pagi itu. Tapi mendengar alasan mereka maka rasa sedih yang menjalar dalam dada ini, serta berharap semoga semua mendapat hikmah. Laju tronton tetap dengan kecepatan yang biasa dan bersyukur karena puncak tidak mengalami kemacetan yang seperti biasanya bila long weekend. Berhenti di sebuah factory outlet (agak bingung saat disini, kita disuruh belanja yah…J ) unloading semua bawaan, keril, daypack, pisang , snack…apalagi yah…?. Dan pindah ke angkot untuk menuju GPO. Re-packing di GPO, istirahat, makan siang, sholat dan tidak lupa Leader untuk pendakian kali ini boim mengurus segala perijinan dan porter (Anda memang layak mendapat dua ancungan jempol).

Ketika Mata Memandang Hamparan Hijau Gn. Putri

 

kita lenakan sejenak penat yang terbawa dari kesibukan kota

biarkan ia terbaring bersama ilalang-ilalang liar

untuk hirup aroma wewangian dari belukar dan segarnya tanaman hijau

 

lepaskan tawa pada sejuknya hawa yang terbawa angin

jangan biarkan duka menyelinap dalam celah jiwa yang riang

karena kita tak mengikutsertakan kesedihan pada hari ini

 

: ketika mata lepas memandang, hati kita bernyanyi dalam nada tanpa cela

 

Desiran angin yang meningkahi rintik – rintik manja langit, mengantar awal pendakian dan waktu bermain pada hitungan 13.10 WIB. Langkah-langkah pasti terayun dan wajah –wajah cerah masih menghiasi, entah bertahan sampai hitungan keberapa senyum-senyum yang terhias itu tetap tersenyum.

Pada pemberhentian pos pertama, yang terlihat hanyalah sebuah bangunan dengan dinding yang tak berbentuk, alas dari papan yang amblas sebagian. Sebuah pos perisitirahatan yang sungguh sangat tak layak. Apakah salah yang yang menghinggapi bangunan ini, sehingga harus berisak tangis setiap melihat lelah menghampiri dirinya.

Bukan Aku Tak Ingin Menghangatkanmu, Sahabat.

 

aku hanya tinggal puing yang menunggu ajal

kreatif tangan-tangan lihai telah memenjarakan sebagian diriku

 

aku hanya bisa memberi alas bumi sebagai pijakan

lantaiku telah tanggal bersama retak sebagian badanku

 

aku hanya sisa sahabat, hingga tak mampu kumenjadi penghangat jiwamu

 

Pendakian terus berlanjut dengan pembagian team menjadi 4 atau 5 team, sepanjang perjalanan terus terisi oleh celoteh-celoteh dari nafas yang beradu dengan kelelahan. Pada shelter kedua hampir semua team berinisiatif untuk berhenti sejenak, tapi apa daya saat akan melanjutkan perjalanan ciuman berhawa dingin dari langit memaksa bertahan agak lama di shelter kedua ini.

Akhirnya dengan mengeluarkan penangkis ciuman yang menggigilkan badan ini, team melanjutkan perjalanan. Pos demi pos atau shelter demi shelter terlewati dengan sempurna walau tanpa harus mencicipinya dengan mengistirahatkan badan. Pada shelter buntut lutung team yang berisikan aku, Sari, Irma, Mulyadi, Rama, Yadi dan Roni berhenti cukup lama. Pemberhentian yang cukup lama ini bukan tanpa alas an tapi karena kita mendapat tawaran yang cukup menggiurkan dari porter-porter yang tangguh dan seru-seru (catat, seru bukan saru). Kopi hangat mengisi tenggorokan ini untuk sesaat menghilangkan selimut hutan gunung putri yang cukup dingin.

Ternyata pemberhentian yang terhitung dengan 2 gelas kopi ini telah memberi efek yang sangat tidak bagus untuk diriku, entah kepada rombongan dalam team ini. Dingin mulai mempengaruhi jiwa ini dengan menggoda tapak tanganku. Hingga datang rombongan Om Bongkeng, Ennoy, Boim, Rep-rep, Ismi, Igo,  Sentot dan Ismi tapi dingin masih tetap menggoda, pelajaran berharga pun didapat dari Om (Biar Oglek Tetap Jaya).

Setelah bisa berjuang melawan hawa dingin yang menyerang telapak tangan dan daerah telinga, akhirnya team yang beranggotakan 4 nattreker dan 2 porter tiba juga di alun-alun timur SuryaKencana. Disini team bertemu dengan Henny dan Ami yang telah tiba lebih dahulu tapi masih nunggu yang lain, kalau Henny nunggu komeng, secara jacketnya ada pada komeng (tega loe meng…anak orang ampe kedinginan…hehehe). Akhirnya dengan melihat kondisi dan cuaca yang semakin dingin, team kami memutuskan untuk sesegera mungkin menuju alun-alun barat SuryaKencana dimana telah diputuskan sebagai area camping ground bagi NFH3+ tentunya setelah lebih dahulu menitipkan Henny ke tendanya Mbak Utari.

Perjalanan dari alun-alun timur ke alun-alun barat bukan sebuah perjalanan biasa, badan lelah, hawa dingin mengintip untuk memeluk erat, pandangan terbatas. Ya,…walaupun telah dibantu dengan headlamp atau senter jarak pandang hanya mampu menembus batas maksimal pandang 2 – 3 meter, sebuah jarak pandang yang tak biasa bagi mata yang terlatih dengan terangnya cahaya lampu-lampu kota. Langkah-langkah kaki ini seperti mengarahkan badan menuju akhir perjalanan yang tak jelas berkecamuk dimasing-masing pikiran kami yang berjalan, adakah ini perjalanan menuju sebuah nereka atau sebuah surga. Tapi pikiran yang tertanam dalam otakku adalah sebuah surga akan menantimu saat badai menyingkir esok hari., saat kami mulai sampai di alun-alun barat maka kuputuskan untuk berteriak memanggil team advance yang telah lebih dulu tiba yaitu Kisin, Deden dan Kotak tapi panggilan kami sepertinya hanya menjadi gema dalam badai SuryaKencana malam minggu. Akhirnya dengan inisiatif dari porter dan bantuan teriakan dari rekan-rekan pendaki yang lainnya akhirnya kami bisa memilih tempat untuk membangun tenda di bawah jalur pendakian menuju puncak.

Mencumbu Badai Dalam Resah

      : TS

langkah-langkah kita telah tertatih hingga titik nadir lelah

tapi jiwa kita tetap bersama untuk dapat menyapa surga pagi

 

selimut badai yang tak kunjung reda tetap menyelimuti

bathin berperang dalam langkah yang tak lurus dan tegap lagi

 

kita mencumbu badai dalam resah yang berkecamuk

menahan ego agar tak menjadi kendali pada waktu

 

kita melintas batas pada waktu yang berputar

lalu sebuah kalimat terekam pada lembaran hampa

 

: kita terselimuti kabut, tapi hati kita bersatu dalam lingkaran kalbu bernama

kasih dan langit menitip salam rindunya untuk tersampaikan pada surga pagi

 

Tenda telah berdiri dengan kebekuan mulai menjalar, kehangatan…hangat. Kata ini yang terus terngiang saat mencoba membangun/mendirikan tenda, jadi yang pertama dilakukan adalah masuk tenda, buka semua pakaian lapangan yang basah terkena tangisan langit dan cubit manja dari badai SuryaKencana. Ketika rekondisi temperature badan, dari HT/Walkie Talkie yang ada padaku terdengar suara dari orang-orang yang sampai saat ini menjadi bagian dari mereka yang mendapat rasa sayangku. “Keluar dari tenda dan tunjukkan arah…cepat”, ternyata mereka agak tersesat walau telah kucoba bantu dengan memberikan arah untuk menuju camping ground tapi mereka tidak bisa menemukan. Dan yang kudapat dari mereka keesokan harinya adalah, saat tiba di alun-alun barat badai semakin membuat jarak pandang dalam selimut kabut menjadi sangat terbatas.

Pejalan Yang Menembus Kabut Surya Kencana

         : EP & EW

jangan naikkan emosimu pada setiap langkah yang tertinggal

jangan rendahkan diri pada kesombongan yang menyeruak

 

karena kita adalah hanya sebuah nyawa yang meminjam raga sepi

karena kita juga adalah sebuah nafsu yang menumpang pada nafas

 

tinggalkan semua ego pada rimbunan semak dibalik bukit

dimana kelembutan telah menantimu untuk beradu hangat dalam canda

 

lalu pada sapa pagi siapkanlah kata untuk kau grafir pada hembusan bayu

dan aku titipkan barisan kataku pada baris bawah grafirmu

 

: ego kita adalah racun tanpa bisa, yang menelusup dalam aliran nadi dan mencoba

membius jiwa kita pada kesombongan  

 

Lalu kenikmatan mulai kami rasakan saat mentari malu-malu untuk menyambut kami pada  minggu pagi yang penuh kabut di alun-alun SuryaKencana. Menikmati wajah penuh cinta dari dalam tendaku, tawa-tawa lepas dari rekan-rekan perjalanan, cerita-cerita yang hangat, hingga tawaran sarapan dari tenda-tenda yang sempat kusambangi. Akhirnya dari minggu pagi hingga menjelang senja kami habiskan dengan menikmati keindahan alam alun-alun SuryaKencana.

Akhirnya catatan perjalanan ini aku hentikan pada paruh waktu ayng masih tersisa, kelanjutannya akan tetap tertulis dengan mengambil memory pada sela-sela otak yang mulai penuh dengan catatan waktu. Terima Kasih.

MecumbuMu, Saat Langit Tak Berhias Kata

 

aku titipkan rindu pada tangkai edelweiss yang kita tatap

disana kuguratkan nama cinta dengan sapuan lembut nafasku

 

aku tinggalkan jejak-jejak waktu pada hamparan alun-alun Surya Kencana

disana kupahatkan jiwa dengan harap kita bisa kembali untuk mengenang

 

aku bisikkan kata-kata yang tak tertulis di lembaran waktu pada hembusan bayu

disana hanya ada sebuah pinta dan lafal doa untuk mengiringi langkah pasti

 

: lalu aku mencumbuMu dengan tatap mata, saat langit tak berhias kata

 

 

Says thanks to :

1.      Allah SWT, untuk semua keselamatan, kesehatan dan terkabulnya doa.

2.      Orang tua, untuk ijinnya dan restunya

3.      Rekan-rekan perjalanan, untuk waktunya, tawa candanya, serta segalanya

4.      Panitia, thanks banget.

 

 

 

 

 

 

 


Blog EntryDalam jiwa, Kata Menanti Rindu KitaMar 24, '06 1:18 AM
for everyone
malam mencumbu kelam
ah...kurasa hanya desau angin yang merayu rimbunnya bambu
pada lembabnya malam
sinar rembulan tak ada
separuh bayang-bayang menatap dalam kesendirian
tarian-tarian erotisme dedaunan hanya sesekali menyelingi pandang mata ini
tak ada lagi kuasa kata pada alas kertas buram ini
kucumbu hawa pengap ini
kujilati keraguan hampa
tapi ragu menatap sinis pada kebisuan
ruang hampa
lantai dingin
semua menjadi terlalu hambar
kembali malam-malam sepi berpagut dengan jiwaku
:akankah kita bertaut dalam rindu ?

Blog EntryKebunKata MALAMFeb 22, '06 8:38 PM
for everyone

Blog EntryCyber Camp 2005 Feb 13, '06 9:54 PM
for everyone

Blog EntryBilakah Ciuman Terjadi Tanpa Ada Rasa ??Feb 6, '06 11:26 PM
for everyone

Sebuah pertanyaan tiba-tiba menyeruak dalam benak ini, apakah mungkin ciuman dapat terjadi bila kita tidak saling mencintai?. Ciuman yang dimaksud adalah ciuman yang intens, dalam atau dalam bahasa kerennya "French Kiss". Bukan ciuman sekedarnya apalagi cipika-cipiki (cium pipi kanan-cium pipi kiri).

Apakah mungkin ciuman itu hanya sebuah coba-coba, atau pelarian sesaat. Karena ada yang pernah berbicara seperti ini,"if, with no feeling. i can't do it (kiss)". Jadi perasaan juga berpengaruhkah dalam setiap ciuman?.Ah...mungkin ini pertanyaan bodoh, tapi sekali lagi mungkinkah ciuman bisa terjadi tanpa rasa cinta, tanpa rasa sayang. Dan hanya benar-benar ciuman.

===================================================================

Hanya Sekedar Ciuman ??

bibir kita perlahan mulai bersentuhan,

melumat

memainkan lidah

bertukar liur

kita berciuman ?, tapi apakah kita pernah berbicara cinta yang membumbui ciuman ini.

hati kita terdiam, otak kita pun hanya merekam kejadian tanpa menelaah.

kita berciuman, sungguh-sungguh berciuman. hingga kita tak sadar bahwa kita telah melepas semua atribut bernama pakaian dari diri kita.

apakah kita terbawa nafsu, sedang pada awal kita akan memulai ciuman ini. sudah terucap,"kita hanya berciuman, tak ada permainan lanjut setelahnya". lalu apa namanya ini, bila telah tertanggalkan semua dan nafas kita memburu penuh.

 

Jakarta, 070206


Blog EntryPerbincangan Berjarak Cinta Dan KasihFeb 2, '06 3:26 AM
for everyone

tak perlu kita bertengkar dengan menguras emosi
tak perlu kita beragumentasi dengan jiwa yang mendidih perih

karena kita adalah perbincangan pada batas waktu dan batas kota
menembus segala keterbatasan pada kehendak masing2 jiwa

persemayaman cinta telah membentuk pilar dalam benak
menghias keindahan hati tanpa perlu memoles kepalsuan

kita berbicara cinta, tanpa harus kita akhiri dengan senggama
kita berbicara benci, tanpa harus kita akhiri dengan menusuk diri

lalu tawa-tawa lepas kita umbar pada langit yang berhias sendu
jiwa kita menari dalam lenggak-lenggoknya liku jalan tanpa perdu

perbincangan kita adalah cinta yang menempuh jarak dalam hitungan kasih

-dan perlahan menghantar kita dalam peluk hangat bernama keluarga

Bandung ~ Jakarta, 290106

 


Blog EntrySketsa Yang Tak TerkirimJan 20, '06 9:31 PM
for everyone
Sketsa Yang Tak Terkirim

Langit senja menitipkan pesannya padaku hari ini, dan waktu terus bergerak seakan ia tak mau tertinggal oleh pudarnya sang penguasa siang.

seikat bunga dan barisan kata telah tersiapkan untuk persembahan pada altar, tapi siapa lelaki yang menjadi pengantar persembahan itu ?

adakah ia penghias hari, atau pelukis senyum waktu, ah...mataku hanya bisa berkata, "Siapkan saja ruang dalam otakmu, untuk merekam adegan senja ini".

ya, aku hanya bisa menjadi pembuat sketsa pada alas bernama awan, dan warna-warnaku bernama kesunyian.

tapi langit malam kembali berbisik padaku, :
"buatlah sketsa tanpa pernah kau harus melukai alas"

Blog EntrySebuah Lukisan Pada Tembikar GagalJan 13, '06 10:31 PM
for everyone
tak sempat kuucap namaMu, saat langit mencumbu bumi pagi ini.
karena waktu tak mengijinkan aku untuk sekedar mengucap.

ketika:

langit mencumbu bumi

angin menggagahi rumpun bambu

lebah membuahi kuntum bunga

dan kita tenggelam dalam pola pikiran yang selalu sama, tak adakah kerinduan yang harus kita bagi ?.

kita selalu berbagi tatap mata, bermain bahasa tubuh, tapi tak pernah kita saling menjamah.
terlalu sucikah raga kita ini, yang hanya sekedar tuk saling berbagi rasa.

telah habis hitungan waktu untuk hari ini, tapi kita tetap mematung dalam kesendirian.

seperti lukisan pada tembikar gagal, kita bersandar pada punggung yang berbeda.

Jakarta Saat Malam, 13/01/06

Blog EntryCatatan Pinggir RanjangJan 10, '06 11:48 PM
for everyone
bibir kita tertutup rapat pada pinggir ranjang pagi ini, tak ada obrolan pagi pembuka hari yang harus kita mulai.

selimut tipis telah berpindah tempat pada pojok kamar, dan nafas kita menjadi musik pagi.

lalu kita memulai hari dengan langkah yang kita sendiri bingung untuk menjejak.

apakah ke kanan atau ke kiri, atau berdiri diam dan menunggu tertiup angin.

saat penguasa siang meninggi, jejak kita tetap membisu. seolah dia enggan tinggalkan kenangan yang tercipta pada malam.

Smooking Room, 110106

Blog EntryMeniti Pelangi PagiJan 3, '06 11:41 PM
for everyone
sudah terlalu sering bila aku harus menuliskan namaMu pada lembaran-lembaran waktu ini,terkadang berhias rangkaian bunga, terkadang hanya sebuah grafiti tak jelas.

itu semua bukan sekedar pelampiasan dari nafsu yang mengharap untuk berorgasme, karena yang tertulis itu adalah;
jiwa
nafas
wajah
rasa

dan entah apalagi yang terkandung didalamnya.

lalu hari ini, aku tak sekedar menuliskan namaMu pada lembaran waktu dan hamparan langit berbingkai senyum.

kini sebuah rajah telah tertoreh pada diri, saat pelangi pagi menyapa.


Cilacap, Des '05

Blog EntryPada Sebuah Batas PerjalananJan 3, '06 11:20 PM
for everyone
pada batas pagi yang terlewati, rintik gerimis hantarkanku lewati perbatasan waktu ini.

rasa yang berkecamuk pada dinding hati ini telah sesakkan perjalanan nafas, tak ada ragu yang harus terucap kecuali rajahan nama itu makin mengakar.

saat lembut angin membelai wajah ini, butir-butir gerimis sadarkan diri dari lamunan sepi.

haruskah kudustakan hari yang hantarkan bisik hangat kerinduan, dan melupakan bahwa jiwa menanti sebuah sapa.

lalu nyanyian alam seakan menjadi sumbang saat tak ada lagi kata-kata yang harus kutulis pada sebuah batas perjalanan.

Blog EntryErotisme Dedaunan Dan Hujan MalamNov 24, '05 8:38 PM
for everyone

:

Malam memainkan alunan lembutnya pada tempo yang lambat, tapi langit seperti tak setuju dengan alunan yang mendayu-dayu, dia perdengarkan gemuruhnya seperti unjuk kuasa bahwa dia adalah penguasa atas segala kerinduan.
Lalu rinai hujan perlahan meningkahi alunan yang berbeda tempo ini, dan mengajak dedaunan untuk menari dalam erotisme malam dengan angin sebagai penuntun gerak.

Disini, aku menuliskan segala rindu pada udara basah dan dingin yang memeluk tubuh. perlahan barisan kalimat ini tersusun pada lembar yang telah terlalu lembab untuk terisi tulisan.

Dan pena mulai menarikan tintanya;

pada wanita yang aku cintai :
Wanitaku, tak ada letih yang harus kukutuki habis-habisan, saat aku menuliskan kata-kata ini.

Tak ada getir yang tak harus kita lawan, tak ada resah yg tak harus kita pikirkan, tak ada ragu yang tak harus kita pendam.
Saat itu semua menyeruak dalam perjalanan kita, apakah memilih diam atau biarkan menjadi hiasan lembar perjalanan.

Kita merasakan semua itu dalam benak dan dada kita, menjadi bumbu dalam setiap kehidupan kita, menjadi ingatan dalam perjalanan panjang kita.
Dan kita membiarkan semuanya, lalu tapak-tapak yg kita tinggalkan adalah waktu, menjadi terbuang, menjadi bayangan, menjadi kenangan. Kita yang menentukan itu semua, dan jangan biarkan kegelapan menjadi selimut penutup ketakutan.

rinai telah berganti dengan keheningan seperti malam-malam lalu, peraduan telah menanti dengan kehangatan yang terbatas, sinyal kehidupan telah memutar arahnya untuk mengulang kembali hitungan angka bernama detik, tanpa terlewat sedikit sisa. Dan drama kehidupan memulai episode baru dan sedikit ulangan untuk mengingat.

Wanitaku, didepan terhampar kehidupan yang harus kita raih, genggam, miliki, bahkan bila perlu kita endapkan dalam rongga dada-dada kita. Lalu kita hiasi dengan manik-manik yang kita dapatkan dengan bertukar peluh, kita bingkai dengan warna-warna percumbuan langit dan laut.

Wanitaku, tinta penaku telah memohon untuk menyudahi tariannya malam ini, untuk menyimpan energi rasanya, agar dia tak bosan untuk menari lagi bersamaku malam-malam selanjutnya. Dengan sebuah kecup dan rasa rindu tanpa batas kuakhiri tulisanku ini.

Tapi tidak dalam perjalanan mencintai ini. Wanita.

tanpa bintang, Jkt Nov '05. hujan malam.


Blog EntrySerupa Jejak Pada JiwaAug 19, '05 1:10 AM
for everyone
hamparan penuh kehijauan menanti didepan
ah...otakku telah terpenuhi untuk merajah senyum pada setiap langkah

saat bukit terlapis awan, lambaian itu terekam dalam lelah
dan degup dada menyuarakan kerinduan

pada punggung bukit ini langkahku tertahan
seringai tatapan kosong menanti waktu

adakah serupa ajal yang mengintai
atau letupan kosong pada otak ini

hingga hujaman itu benar-benar menyapa diri
lalu intaian menghilangkan diri tanpa sapa pada sepi


Gerbang Gn. Pancar ~ Makam, 17-08-05

Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help