“Cumbuan Kabut Surya Kencana Memberi Rindu Pada Jiwa-jiwa Penuh Cinta”
Trip NFH3+ , Gn. Gede
(Perjalanan kali ini ternyata membawa efek dan dampak yg sangat besar. Dan jawab yang ternanti adalah “Iya”.
Mungkin prolog ini lebih bersifat kea rah pribadi tapi ijinkan jejemari ini memainkan nadanya pada barisan huuf-huruf keyboard gelapku.)
Malam Jum’at ini kaki terpijakkan pada area pintu 7 senayan, “Technical meeting terakhir, pesan terakhir yang teringat”. Puluhan atau mungkin ratusan bau keringat menyebar dari area bernama Gelora ini. Tapi wajah-wajah ya terharapkan belum satupun menghias pandangan ini. Sebuah pesan datang dengan perlahan “Gue lagi OTW, ban kemps”. Lalu wajah ibu muda dengan segelas es buah berjalan menantang untuk di sambut. Dan mulailah wajah-wajah yang telah melekat bahkan mungkin telah mengambil sebagian memori dari otak ini menampakkan ujud mereka yang kasat dan mungkin kesat.
Perbincanganpun terjadi dan tetap dengan cela dan makian yang membikin gerah setiap telinga yang berusaha mencuri dengar.
Bila dentang jam dinding besar terdengar mungkin kami baru tersadar, tapi ternyata pergerakkan badan yang mengusir langkah untuk bergerak pulang dan waktu berbicara pada angka 9.
Kembali berada di surga hangat pada saat jarum pendek dan panjang beradu kecepatan pada hitungan 10. Dan pengepackan (bahasa kerennya packing) pun dimulai, packing ini adalah baru untuk 1 jiwa dan besok malam rencanannya akan melanjutkan kembali. Ketika dentang berbunyi 12 kali matapun telah lelah dan jiwa ini menuntut untuk terlelap.
Jum’at, waktu terpampang pada angka 05.30. Kaki pun mulai melangkah meninggalkan surga kecil yang hangat dengan membawa keril berisi perlengkapan standard dan menempatkan diri pada busa empuk “my jazzy blue”, pagipun kubuka dengan raungan hangat nan lembut. Dengan berjanji pada waktu keril disinggahkan pada kamar hangat keduaku.
Setelah berpacking ria membereskan keril kedua, mata ini terasa berat untuk menyaksikan “The Net” yang sedang tayang pada televisi swasta yang bermoto “milik Kita Bersama”, tanpa pamit pada pemilik kamar akhirnya jiwa ini terlelap dan pemilik kamar yang tak lain adalah my special one bergeser pada kamar sebelah. (lelaki yang egois adalah siksa,…sam).
Sebuah Nalar Pada Waktu Terhitung
adakah letih yang menyapa pada bisik bintang pagi
atau lembut tanya sang rembulan sepi
sedang hati enggan menjawab semua tanya
perlahan jiwa menuntun mata untuk menatap rindu yang terpancar
agar keraguan menjadi kekuatan yang tersimpan pada hasrat
lalu melepas ketidakyakinan menjadi pasti
nalar kita mungkin berkata tidak
tapi bila jiwa menuntun untuk menuliskan iya
jangang pernah ragu, karena waktu terus berhitung
Sabtu, mengalahkan kokok ayam jantan yang tak terdengar mata ini menatap lepas dan menyiapkan badan untuk bermain dengan air pagi. Lalu menjumpai Sang Maha untuk melaporkan diri dan memohon segala permintaan bergantian dengan my special one. Kembali langkah kaki terayun, tetapi kali ini langkahku tak sendiri karena ada yang menemani dan harapanku adalah bukan untuk saat ini saja kumelangkah bersama.
Ah…,akhirnya bisa juga aku mencoba busway setelah angkutan ini lama beredar di ibukota yang sesak dan padat ini. Dan harus kuakui bis ini terasa nyaman disaat sepi entah bila penuh sesak.
Tiba di halte busway monas lalu berganti busway ke arah blok m, dan tetap dengan menggendong keril yang menjadi perhatian semua mata pagi itu. Melirik ke jam tangan harga kaki lima yang melingkar santai pada pergelangan tangan ini (06.00) akhirnya sampai juga kami di halte busway bunderan senayan (atas saran dari ibu muda Ferinalah kami turun disini…menyesatkan, huh). Berharap akan adanya ojek kamipun dengan santai berjalan melintasi halte ke seberang, tapi mata ini telah salah menangkap penampakan pagi itu, karena dua motor yang terparkir pada area khusus ojek ternyata bukan, maka trekking pagi pun menjadi alternative. Dan tidak melewati batas maksimal dari waktu yang telah ditentukan akhirnya kami tiba di meeting point, patal senayan.
Perjalananpun bermulai, meninggalkan rekan yang tak jadi…huh kekesalan pribadi menyeruak pagi itu. Tapi mendengar alasan mereka maka rasa sedih yang menjalar dalam dada ini, serta berharap semoga semua mendapat hikmah. Laju tronton tetap dengan kecepatan yang biasa dan bersyukur karena puncak tidak mengalami kemacetan yang seperti biasanya bila long weekend. Berhenti di sebuah factory outlet (agak bingung saat disini, kita disuruh belanja yah…J ) unloading semua bawaan, keril, daypack, pisang , snack…apalagi yah…?. Dan pindah ke angkot untuk menuju GPO. Re-packing di GPO, istirahat, makan siang, sholat dan tidak lupa Leader untuk pendakian kali ini boim mengurus segala perijinan dan porter (Anda memang layak mendapat dua ancungan jempol).
Ketika Mata Memandang Hamparan Hijau Gn. Putri
kita lenakan sejenak penat yang terbawa dari kesibukan kota
biarkan ia terbaring bersama ilalang-ilalang liar
untuk hirup aroma wewangian dari belukar dan segarnya tanaman hijau
lepaskan tawa pada sejuknya hawa yang terbawa angin
jangan biarkan duka menyelinap dalam celah jiwa yang riang
karena kita tak mengikutsertakan kesedihan pada hari ini
: ketika mata lepas memandang, hati kita bernyanyi dalam nada tanpa cela
Desiran angin yang meningkahi rintik – rintik manja langit, mengantar awal pendakian dan waktu bermain pada hitungan 13.10 WIB. Langkah-langkah pasti terayun dan wajah –wajah cerah masih menghiasi, entah bertahan sampai hitungan keberapa senyum-senyum yang terhias itu tetap tersenyum.
Pada pemberhentian pos pertama, yang terlihat hanyalah sebuah bangunan dengan dinding yang tak berbentuk, alas dari papan yang amblas sebagian. Sebuah pos perisitirahatan yang sungguh sangat tak layak. Apakah salah yang yang menghinggapi bangunan ini, sehingga harus berisak tangis setiap melihat lelah menghampiri dirinya.
Bukan Aku Tak Ingin Menghangatkanmu, Sahabat.
aku hanya tinggal puing yang menunggu ajal
kreatif tangan-tangan lihai telah memenjarakan sebagian diriku
aku hanya bisa memberi alas bumi sebagai pijakan
lantaiku telah tanggal bersama retak sebagian badanku
aku hanya sisa sahabat, hingga tak mampu kumenjadi penghangat jiwamu
Pendakian terus berlanjut dengan pembagian team menjadi 4 atau 5 team, sepanjang perjalanan terus terisi oleh celoteh-celoteh dari nafas yang beradu dengan kelelahan. Pada shelter kedua hampir semua team berinisiatif untuk berhenti sejenak, tapi apa daya saat akan melanjutkan perjalanan ciuman berhawa dingin dari langit memaksa bertahan agak lama di shelter kedua ini.
Akhirnya dengan mengeluarkan penangkis ciuman yang menggigilkan badan ini, team melanjutkan perjalanan. Pos demi pos atau shelter demi shelter terlewati dengan sempurna walau tanpa harus mencicipinya dengan mengistirahatkan badan. Pada shelter buntut lutung team yang berisikan aku, Sari, Irma, Mulyadi, Rama, Yadi dan Roni berhenti cukup lama. Pemberhentian yang cukup lama ini bukan tanpa alas an tapi karena kita mendapat tawaran yang cukup menggiurkan dari porter-porter yang tangguh dan seru-seru (catat, seru bukan saru). Kopi hangat mengisi tenggorokan ini untuk sesaat menghilangkan selimut hutan gunung putri yang cukup dingin.
Ternyata pemberhentian yang terhitung dengan 2 gelas kopi ini telah memberi efek yang sangat tidak bagus untuk diriku, entah kepada rombongan dalam team ini. Dingin mulai mempengaruhi jiwa ini dengan menggoda tapak tanganku. Hingga datang rombongan Om Bongkeng, Ennoy, Boim, Rep-rep, Ismi, Igo, Sentot dan Ismi tapi dingin masih tetap menggoda, pelajaran berharga pun didapat dari Om (Biar Oglek Tetap Jaya).
Setelah bisa berjuang melawan hawa dingin yang menyerang telapak tangan dan daerah telinga, akhirnya team yang beranggotakan 4 nattreker dan 2 porter tiba juga di alun-alun timur SuryaKencana. Disini team bertemu dengan Henny dan Ami yang telah tiba lebih dahulu tapi masih nunggu yang lain, kalau Henny nunggu komeng, secara jacketnya ada pada komeng (tega loe meng…anak orang ampe kedinginan…hehehe). Akhirnya dengan melihat kondisi dan cuaca yang semakin dingin, team kami memutuskan untuk sesegera mungkin menuju alun-alun barat SuryaKencana dimana telah diputuskan sebagai area camping ground bagi NFH3+ tentunya setelah lebih dahulu menitipkan Henny ke tendanya Mbak Utari.
Perjalanan dari alun-alun timur ke alun-alun barat bukan sebuah perjalanan biasa, badan lelah, hawa dingin mengintip untuk memeluk erat, pandangan terbatas. Ya,…walaupun telah dibantu dengan headlamp atau senter jarak pandang hanya mampu menembus batas maksimal pandang 2 – 3 meter, sebuah jarak pandang yang tak biasa bagi mata yang terlatih dengan terangnya cahaya lampu-lampu kota. Langkah-langkah kaki ini seperti mengarahkan badan menuju akhir perjalanan yang tak jelas berkecamuk dimasing-masing pikiran kami yang berjalan, adakah ini perjalanan menuju sebuah nereka atau sebuah surga. Tapi pikiran yang tertanam dalam otakku adalah sebuah surga akan menantimu saat badai menyingkir esok hari., saat kami mulai sampai di alun-alun barat maka kuputuskan untuk berteriak memanggil team advance yang telah lebih dulu tiba yaitu Kisin, Deden dan Kotak tapi panggilan kami sepertinya hanya menjadi gema dalam badai SuryaKencana malam minggu. Akhirnya dengan inisiatif dari porter dan bantuan teriakan dari rekan-rekan pendaki yang lainnya akhirnya kami bisa memilih tempat untuk membangun tenda di bawah jalur pendakian menuju puncak.
Mencumbu Badai Dalam Resah
: TS
langkah-langkah kita telah tertatih hingga titik nadir lelah
tapi jiwa kita tetap bersama untuk dapat menyapa surga pagi
selimut badai yang tak kunjung reda tetap menyelimuti
bathin berperang dalam langkah yang tak lurus dan tegap lagi
kita mencumbu badai dalam resah yang berkecamuk
menahan ego agar tak menjadi kendali pada waktu
kita melintas batas pada waktu yang berputar
lalu sebuah kalimat terekam pada lembaran hampa
: kita terselimuti kabut, tapi hati kita bersatu dalam lingkaran kalbu bernama
kasih dan langit menitip salam rindunya untuk tersampaikan pada surga pagi
Tenda telah berdiri dengan kebekuan mulai menjalar, kehangatan…hangat. Kata ini yang terus terngiang saat mencoba membangun/mendirikan tenda, jadi yang pertama dilakukan adalah masuk tenda, buka semua pakaian lapangan yang basah terkena tangisan langit dan cubit manja dari badai SuryaKencana. Ketika rekondisi temperature badan, dari HT/Walkie Talkie yang ada padaku terdengar suara dari orang-orang yang sampai saat ini menjadi bagian dari mereka yang mendapat rasa sayangku. “Keluar dari tenda dan tunjukkan arah…cepat”, ternyata mereka agak tersesat walau telah kucoba bantu dengan memberikan arah untuk menuju camping ground tapi mereka tidak bisa menemukan. Dan yang kudapat dari mereka keesokan harinya adalah, saat tiba di alun-alun barat badai semakin membuat jarak pandang dalam selimut kabut menjadi sangat terbatas.
Pejalan Yang Menembus Kabut Surya Kencana
: EP & EW
jangan naikkan emosimu pada setiap langkah yang tertinggal
jangan rendahkan diri pada kesombongan yang menyeruak
karena kita adalah hanya sebuah nyawa yang meminjam raga sepi
karena kita juga adalah sebuah nafsu yang menumpang pada nafas
tinggalkan semua ego pada rimbunan semak dibalik bukit
dimana kelembutan telah menantimu untuk beradu hangat dalam canda
lalu pada sapa pagi siapkanlah kata untuk kau grafir pada hembusan bayu
dan aku titipkan barisan kataku pada baris bawah grafirmu
: ego kita adalah racun tanpa bisa, yang menelusup dalam aliran nadi dan mencoba
membius jiwa kita pada kesombongan
Lalu kenikmatan mulai kami rasakan saat mentari malu-malu untuk menyambut kami pada minggu pagi yang penuh kabut di alun-alun SuryaKencana. Menikmati wajah penuh cinta dari dalam tendaku, tawa-tawa lepas dari rekan-rekan perjalanan, cerita-cerita yang hangat, hingga tawaran sarapan dari tenda-tenda yang sempat kusambangi. Akhirnya dari minggu pagi hingga menjelang senja kami habiskan dengan menikmati keindahan alam alun-alun SuryaKencana.
Akhirnya catatan perjalanan ini aku hentikan pada paruh waktu ayng masih tersisa, kelanjutannya akan tetap tertulis dengan mengambil memory pada sela-sela otak yang mulai penuh dengan catatan waktu. Terima Kasih.
MecumbuMu, Saat Langit Tak Berhias Kata
aku titipkan rindu pada tangkai edelweiss yang kita tatap
disana kuguratkan nama cinta dengan sapuan lembut nafasku
aku tinggalkan jejak-jejak waktu pada hamparan alun-alun Surya Kencana
disana kupahatkan jiwa dengan harap kita bisa kembali untuk mengenang
aku bisikkan kata-kata yang tak tertulis di lembaran waktu pada hembusan bayu
disana hanya ada sebuah pinta dan lafal doa untuk mengiringi langkah pasti
: lalu aku mencumbuMu dengan tatap mata, saat langit tak berhias kata
Says thanks to :
1. Allah SWT, untuk semua keselamatan, kesehatan dan terkabulnya doa.
2. Orang tua, untuk ijinnya dan restunya
3. Rekan-rekan perjalanan, untuk waktunya, tawa candanya, serta segalanya
4. Panitia, thanks banget.